asslamu’alaykum..
alhamdulillah, puasa hari ini berjalan dengan lancar, walopun smpet badmood gara2 ujian MK anJab tadi ga berjalan mulus.. tapi aku pasrah deh, toh itu smw udah terlanjur terjadi..anggep aja itu qurban dari aku (yang perfeksionis masalah akademik..karna aku Study oriented bgt).. aku berqurban nilai MK..,, aku belum mampu berqurban harta, aku juga belum sanggup berqurban perasaan.. hehehe… cuma itu itu itu yg bisa aku qurban kan,,anjab oh anjab.. sabar..ikhlas..keep smile^^
Allah mengujimu deee…. jadi inget kisahnya nabi kita Ibrahim AS..ttg pengorbanannya, ketaqwaanya, kecintaannya pada Allah SWT..:
belajar dari Ibrahim~
Dalam ibadah qurban, kembali Nabi Ibrahim tampil di dalamnya sebagai sosok manusia yang mendapat ujian dari Allah SWT. Ia harus menunjukkan ketaatannya secara totalitas dengan menyembelih putra kesayangan yang telah dinantinya sekian lama. Sebuah kisah yang sangat monumental dalam sejarah peradaban man…usia yang menjadi cikal bakal ibadah qurban.
Maka tatkala anak itu sampai sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia menjawab: ”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; InsyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat : 102).
Begitu mengagumkan, keimanan seorang Ibrahim diuji dengan perintah untuk menyembelih putranya sendiri. Dan ia berhasil melewati ujian keimanan itu. Keyakinan akan perintah Allah membuat hatinya kuat mengorbankan anaknya sendiri. Begitu juga Ismail, orang tua mana yang tidak terharu mendengar jawaban seorang anak yang begitu santun dan ringan menjalankan perintah Allah yang begitu beratnya. Pastaslah jika Al Quran menyebutnya dengan ghulamun halim. Beginilah seharusnya sikap seorang mukmin ketika mendengar perintah Allah SWT, tanpa komentar dan pilah-pilih. Jika perintah itu datang dari Allah, maka sami’na wa atha’na, kami mendengar dan kami menaati. Nabi Ibrahim menyadari akan hal itu. Apapun yang ia cintai meskipun hal itu adalah anaknya sendiri, dengan penuh keyakinan ia korbankan manakala Allah menghendaki. Begitulah, pengorbanan menjadi harga mati bagi iman. Di mana geliat iman akan terlihat pada seberapa besar pengorbanan kita, seberapa banyak kita memberi, seberapa banyak keringat kita menetes, dan puncak dari segalanya adalah dimana kita menyerahkan harta dan jiwa sebagai persembahan total kepada Allah SWT. Ismail hanyalah simbol dari segala yang kita miliki dan cintai dalam hidup ini. Kalau Ismailnya Nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lalu siapakah Ismail kita ? Bisa jadi diri kita sendiri, anak dan istri kita, harta, atau pangkat dan jabatan kita.
Inilah pelajaran yang sangat berharga bagi semua umat manusia. Namun berapa banyak dari mereka yang berhasil mendulang emas darinya. Dengan semangat meneladani kisah sarat pengorbanan dari Nabi Ibrahim dan Ismail, marilah kita menatap Idul Adha yang sebentar lagi akan tiba dengan penuh semangat. Semangat untuk berqurban dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Jangan sampai hal ini malah menjadi momok yang senantiasa menghantui saku-saku kantong kita. Namun kita jadikan hari raya Idul Adha sebagai ladang beramal, ladang berkorban, dan ladang menempa iman kita.
Oleh : Ayyas
eh iya..balik lagi ke topik utama, alhamdulillah hari ini puasa arafah ku lancar.. seneng deh..ifthor’y bareng keluarga..pake rendang daging n smbel goreng kentang buatan ibu,,nyummy.. udah lama ga ifthor bareng stelah ramadhan kmrn usai.. belum lagi belakang ini aku pulang malem trus krn kegiatan di lab… alhamdulillah..
puasa tarwiyah dan arafah
Published by Syafii on November 19, 2009 06:18 pm under Ibadah Haji dan Umrah
PUASA ARAFAH adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 Dzulhijah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa-puasa lainnya.
Keutamaan puasa Arafah ini seperti diriwayatkan dari Abu Qatadah Rahimahullah. Rasulullah SAW bersabda:
صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية
Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Assyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas. (HR. Muslim)
Sementara puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. Dikatakan hadits ini dloif (kurang kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dloif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadla’ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.
Lagi pula hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Abnu Abbas r.a meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda:
ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء
Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR Bukhari)
Puasa Arafah dan tarwiyah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jemaah haji sedang menjalankan ibadah di tanah suci.
Sebagai catatan, jika terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Dzulhijjah antara pemerintah Arab Saudi dan Indonesia seperti terjadi pada tahun ini (Dzulhijjah 1427 H), dimana Saudi menetapkan Awal Dzulhijjah pada hari Kamis (21 Desember 2006) dan Indonesia menetapkan hari Jum’at (22 Desember 2006) maka untuk umat Islam Indonesia melaksanakan puasa Arafah dan Tarwiyah sesuai dengan ketetapan pemerintah setempat, yakni tanggal 8-9 Dzulhijjah (29-30 Desember 2006). Ini didasarkan pada perbedaan posisi geografis semata.
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun. (HR Bukhari Muslim). (***Anam)
Sumber http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8197
^^
belajar dari Ibrahim~
Dalam ibadah qurban, kembali Nabi Ibrahim tampil di dalamnya
sebagai sosok manusia yang mendapat ujian dari Allah SWT. Ia harus
menunjukkan ketaatannya secara totalitas dengan menyembelih putra
kesayangan yang telah dinantinya sekian lama. Sebuah kisah yang sangat
monumental dalam sejarah peradaban man…usia yang menjadi cikal bakal
ibadah qurban.
Maka
tatkala anak itu sampai sampai (pada umur sanggup) berusaha
bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ”Hai anakku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu. Ia menjawab: ”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; InsyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat : 102).
Begitu
mengagumkan, keimanan seorang Ibrahim diuji dengan perintah untuk
menyembelih putranya sendiri. Dan ia berhasil melewati ujian keimanan
itu. Keyakinan akan perintah Allah membuat hatinya kuat mengorbankan
anaknya sendiri. Begitu juga Ismail, orang tua mana yang tidak terharu
mendengar jawaban seorang anak yang begitu santun dan ringan
menjalankan perintah Allah yang begitu beratnya. Pastaslah jika Al
Quran menyebutnya dengan ghulamun halim. Beginilah seharusnya
sikap seorang mukmin ketika mendengar perintah Allah SWT, tanpa
komentar dan pilah-pilih. Jika perintah itu datang dari Allah, maka sami’na wa atha’na,
kami mendengar dan kami menaati. Nabi Ibrahim menyadari akan hal itu.
Apapun yang ia cintai meskipun hal itu adalah anaknya sendiri, dengan
penuh keyakinan ia korbankan manakala Allah menghendaki. Begitulah,
pengorbanan menjadi harga mati bagi iman. Di mana geliat iman akan
terlihat pada seberapa besar pengorbanan kita, seberapa banyak kita
memberi, seberapa banyak keringat kita menetes, dan puncak dari
segalanya adalah dimana kita menyerahkan harta dan jiwa sebagai
persembahan total kepada Allah SWT. Ismail hanyalah simbol dari segala
yang kita miliki dan cintai dalam hidup ini. Kalau Ismailnya Nabi
Ibrahim adalah putranya sendiri, lalu siapakah Ismail kita ? Bisa jadi diri kita sendiri, anak dan istri kita, harta, atau pangkat dan jabatan kita.
Inilah pelajaran yang sangat berharga bagi semua umat manusia.
Namun berapa banyak dari mereka yang berhasil mendulang emas darinya.
Dengan semangat meneladani kisah sarat pengorbanan dari Nabi Ibrahim
dan Ismail, marilah kita menatap Idul Adha yang sebentar lagi akan tiba
dengan penuh semangat. Semangat untuk berqurban dan lebih mendekatkan
diri kepada-Nya. Jangan sampai hal ini malah menjadi momok yang senantiasa menghantui saku-saku kantong kita. Namun kita jadikan hari raya Idul Adha sebagai ladang beramal, ladang berkorban, dan ladang menempa iman kita.
Oleh : Ayyas
sebagai sosok manusia yang mendapat ujian dari Allah SWT. Ia harus
menunjukkan ketaatannya secara totalitas dengan menyembelih putra
kesayangan yang telah dinantinya sekian lama. Sebuah kisah yang sangat
monumental dalam sejarah peradaban man…usia yang menjadi cikal bakal
ibadah qurban.
tatkala anak itu sampai sampai (pada umur sanggup) berusaha
bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ”Hai anakku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu. Ia menjawab: ”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; InsyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat : 102).
mengagumkan, keimanan seorang Ibrahim diuji dengan perintah untuk
menyembelih putranya sendiri. Dan ia berhasil melewati ujian keimanan
itu. Keyakinan akan perintah Allah membuat hatinya kuat mengorbankan
anaknya sendiri. Begitu juga Ismail, orang tua mana yang tidak terharu
mendengar jawaban seorang anak yang begitu santun dan ringan
menjalankan perintah Allah yang begitu beratnya. Pastaslah jika Al
Quran menyebutnya dengan ghulamun halim. Beginilah seharusnya
sikap seorang mukmin ketika mendengar perintah Allah SWT, tanpa
komentar dan pilah-pilih. Jika perintah itu datang dari Allah, maka sami’na wa atha’na,
kami mendengar dan kami menaati. Nabi Ibrahim menyadari akan hal itu.
Apapun yang ia cintai meskipun hal itu adalah anaknya sendiri, dengan
penuh keyakinan ia korbankan manakala Allah menghendaki. Begitulah,
pengorbanan menjadi harga mati bagi iman. Di mana geliat iman akan
terlihat pada seberapa besar pengorbanan kita, seberapa banyak kita
memberi, seberapa banyak keringat kita menetes, dan puncak dari
segalanya adalah dimana kita menyerahkan harta dan jiwa sebagai
persembahan total kepada Allah SWT. Ismail hanyalah simbol dari segala
yang kita miliki dan cintai dalam hidup ini. Kalau Ismailnya Nabi
Ibrahim adalah putranya sendiri, lalu siapakah Ismail kita ? Bisa jadi diri kita sendiri, anak dan istri kita, harta, atau pangkat dan jabatan kita.
Namun berapa banyak dari mereka yang berhasil mendulang emas darinya.
Dengan semangat meneladani kisah sarat pengorbanan dari Nabi Ibrahim
dan Ismail, marilah kita menatap Idul Adha yang sebentar lagi akan tiba
dengan penuh semangat. Semangat untuk berqurban dan lebih mendekatkan
diri kepada-Nya. Jangan sampai hal ini malah menjadi momok yang senantiasa menghantui saku-saku kantong kita. Namun kita jadikan hari raya Idul Adha sebagai ladang beramal, ladang berkorban, dan ladang menempa iman kita.
Oleh : Ayyas











